Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Total Tayangan Laman

Share it

Cari Blog Ini

Memuat...

Sabtu, 10 September 2011

SENI MUSIK MALUKU

A.      Lagu Daerah Maluku
Masyarakat Maluku mempunyai oleh suara yang cukup menonjol. Hal tersebut dikarenakan wilayahnya yang mempunyai pantai dimana dengan sendirinya mempunyai gelombang sehingga mempengaruhinya untuk memberikan suasana selalu riang.
Hal ini membangkitkan para seniman Maluku untuk menciptakan karya seni yang tinggi mutunya yang berhubungan dengan lautan. Beberapa lagu Maluku yang terkenal dan sudah menjadi milik nasional antara lain, Kota Ambonj, Mama Bakar Sagu, Ouw Ulate, Lembe-Lembe, Ole Sioh, Saureka-saureka, Amarlolin, Borero, Banda Neira, Sayang Kane dan sebagainya. ‘Dengan lagu kami menghibur, dengan lagu kami berdendang,’ menjadi motto Jujaro Mungare Ambon, sehingga menjadi potensi pariwisata yang cukup diandalkan.
Selain kaya akan seni suara, Maluku juga tidak ketinggalan dengan seni tarinya. Kalau seni suara banyak menceritakan keindahan laut dengan gelombangnya, maka seni tari banyak memfokuskan diri pada kekayaan hutan, kelincahan masyarakat dalam mencari kehidupan. Untuk itulah seni tari hidup dan berkembang sesuai dengan kodrat yang ada di Maluku.

B.      Alat Musik Maluku
Alat musik yang terkenal adalah Tifa (sejenis gendang) dan Totobuang. Masing-masing alat musik dari Tifa Totobuang memiliki fungsi yang bereda-beda dan saling mendukung satu sama lain hingga melahirkan warna musik yang sangat khas. Namun musik ini didominasi oleh alat musik Tifa. Terdiri dari Tifa yaitu, Tifa Jekir, Tifa Dasar, Tifa Potong, Tifa Jekir Potong dan Tifa Bas, ditambah sebuah Gong berukuran besar dan Toto Buang, yang merupakan serangkaian gong-gong kecil yang di taruh pada sebuah meja, dengan beberapa lubang sebagai penyanggah. Adapula alat musik tiup yaitu Kulit Bia (Kulit Kerang).
Tifa dan totobuang adalah musik asli yang sama sekali tidak dipengaruhi budaya luar. Musik ini merupakan musik khas warga yang tinggal di wilayah mayoritas Kristen. Dalam beberapa pertunjukan, musik ini biasanya disandingkan dengan musik sawat, yang sebaliknya hanya dapat dimainkan oleh orang-orang yang tinggal di wilayah mayoritas Muslim.
Masing-masing alat musik dari tifa dan totobuang memiliki fungsi yang berbeda-beda dan saling mendukung satu sama lain hingga melahirkan warna musik yang khas. Namun musik ini didominasi oleh musik tifa. Terdiri dari tifa jekir, tifa dasar, tifa potong, tifa jekir potong, dan tifa bas ditambah dengan gongberukuran besar dan totobuang, yang merupakan serangkaian gong-gong kecil yang ditaruh pada sebuah meja, dengan beberapa lubang sebagai penyanggahnya.
Sayangnya musik nan indah ini, sekarang sangat jarang kita nikmati. Bahkan dapat dikatakan langka. Musik ini hanya dapat dipertunjukkan pada event-event tertentu. Misalnya acara penyambutan tamu khusus, pertunjukan kesenian daerah Maluku di luar daerah atau di luar negeri serta pada acara-acara adat. Pemainnya pun umumnya merupakan pemain yang diajarkan secara turun-temurun oleh orang tua mereka.
Dalam kebudayaan Maluku, terdapat pula alat musik petik yaitu Ukulele dan Hawaiian seperti halnya terdapat dalam kebudayaan Hawaii di Amerika Serikat. Hal ini dapat dilihat ketika musik-musik Maluku dari dulu hingga sekarang masih memiliki ciri khas dimana terdapat penggunaan alat musik Hawaiian baik pada lagu-lagu pop maupun dalam mengiringi tarian tradisional seperti Katreji.
Musik lainnya ialah Sawat. Sawat adalah perpaduan dari budaya Maluku dan budaya Timur Tengah. Pada beberapa abad silam, bangsa Arab datang untuk menyebarkan agama Islam di Maluku, kemudian terjadilah campuran budaya termasuk dalam hal musik. Terbukti pada beberapa alat musik Sawat, seperti rebana dan seruling, yang mencirikan alat musik gurun pasir.
Diluar daripada beragamnya alat musik, orang Maluku terkenal handal dalam bernyanyi. Sejak dahulupun, mereka sudah sering bernyanyi dalam mengiringi tari-tarian tradisional. Tak ayal bila sekarang, terdapat banyak penyanyi terkenal yang lahir dari kepulauan ini. Sebut saja para legenda seperti Broery Pesoelima dan Harvey Malaihollo. Belum lagi para penyanyi kaliber dunia lainnya seperti Daniel Sahuleka, Ruth Sahanaya, Monica Akihary, Eric Papilaya, Danjil Tuhumena, Romagna Sasabone, Harvey Malaihollo serta penyanyi-penyanyi muda berbakat seperti Glen Fredly, Ello Tahitu dan Moluccas.
a)      Tifa
Tifa merupakan alat musik khas dari Maluku dan Papua. Tifa mirip dengan alat musik gendang yang dimainkan juga dengan cara dipukul. Alat musik ini terbuat dari sebatang kayu yang dikosongi atau dihilangi isinya dan pada salah satu sisi ujungnya ditutupi, dan biasanya penutupnya digunakan kulit rusa yang telah dikeringkan untuk menghasilkan suara yang bagus dan indah. Bentuknyapun biasanya dibuat dengan ukiran. Setiap suku di Maluku dan Papua memiliki tifa dengan ciri khas nya masing-masing.
TIFA biasanya digunakan untuk mengiringi tarian perang dan beberapa tarian daerah lainnya seperti tari Lenso dari Maluku yang diiringi juga dengan alat musik totobuang, tarian tradisional suku Asmat dan tari Gatsi.
Alat musik tifa dari Maluku memiliki nama lain, seperti tahito atau tihal yang digunakan di wilayah-wilayah Maluku Tengah. Sedangkan, di pulau Aru, tifa memiliki nama lain yaitu titir. Jenisnya ada yang berbentuk seperti drum dengan tongkat yang seperti yang digunakan di Masjid . Badan kerangkanya terbuat dari kayu yang dilapisi rotan sebagai pengikatnya dan bentuknya berbeda-beda berdasarkan daerah asalnya.
b)      Totobuang
Gieben. at. al, mengemukakan bahwa, kata totobuang berasal dari kata tabuh yang dalam tradisi gamelan jawa berarti menabuh/bermain gamelan. Ia juga mengutip pendapat van Hovel yang mengatakan, gong/boning mula-mula merupakan alat penukar cindera mata dalam acara angkat pela. Gong disebut sebagai mata pela. Pendapat lainnya yakni, Tamaela berpendapat, alat musik totobuang yang adalah alat musik gong dalam tradisi gamelan jawa, datangnnya dari pulau jawa sejalan dengan masuknya agama islam di Maluku pada abad ke-15. Dari kedua pendapat tadi, Alfons mengutip pernyataan Suhardjo Parto, yakni 1). Sebagai alat cindera mata. Dianggap berharga sebab masyarakat Maluku tidak mempunyai tradisi melebur logam. 2) para mubalik yang datang dari pulau Jawa (Giri) menggunakan totobuang pada saat itu sebagai sarana kontak dalam penyiaran agama Islam.
 Totobuang dalam perkembangan organologinya telah mengalami perkembangan dimana tidak saja dibuat dari tembaga (bonang) tapi, oleh masyarakat di Maluku telah mengembangkan totobuang dari kayu, maupun logam lain seperti; totobuang kaleng (terbuat dari kaleng ikan sardencis), totobuang lampu (terbuat dari tabung lampu gas). Totobuang ini dikembangkan oleh group totobuang Haunesa dari desa Tuni.
 Adanya pengembangan bentuk dan bahan pembuatan totobuang disebabkan karena untuk mendapatkan totobuang bonang, harus didatangkan dari daerah Jawa (Klaten, Solo, Semarang atau Yogyakarta).

C.      Jenis Musik Maluku
1)      Musik Bambu Tiup
Pertunjukan musik bambu tiup merupakan hiburan umum bagi masyarakat Halmahera Utara yang dimainkan dengan cara ditiup. Alat musik bambu tiup terbuat dari bambu dan dibawakan oleh sekelompok pemain musik yang terdiri dari 20-30 orang. Berbeda dengan musik bambu hitadi, musik bambu tiup tidak membutuhkan penyanyi dan dapat dikolaborasikan dengan alat musik lain seperti seruling.
2)      Musik Yangere
Merupakan musik tradisional masyarakat Halmahera Utara. Musik ini dimainkan secara kelompok dengan menggunakan alat musik tradisional kaste (bass tradisional) dan jup (gitar berukuran kecil). Oleh masyarakat setempat musik Yangere biasanya dimainkan dalam rangka menyambut event tertentu dengan cara membawanya berkeliling dari rumah ke rumah.
3)      Musik Bambu Hitadi
Sesuai namanya, alat Musik Bambu Hitadi dibuat dari bambu dengan menggunakan pengaturan nada musik berdasarkan nada-nada yang dibutuhkan pada lagu yang diiringi. Musik Bambu Hitadi merupakan musik tradisional yang hanya terdapat di Halmahera Utara dengan pemain dan penyanyi berjumlah 15 orang.


D.      Musik Bambu Hitada

1)      Text Box: Salah satu kelompok musik di Maluku Utara sedang memaikan Musik Bambu Hitada

Asal-usul
Kebudayaan merupakan hasil dari interaksi antara manusia dengan Tuhannya, antara manusia dengan sesamanya, dan antara manusia dengan alam dimana mereka hidup. Oleh karena pola-pola interaksi yang terjadi berbeda-beda, maka kebudayaan yang dihasilkan berbeda-beda dan mempunyai keunikan masing-masing. Salah satu kebudayaan yang cukup unik tersebut adalah Musik Bambu Hitada. Musik tradisional ini merupakan salah satu kesenian tradisional masyarakat Halmahera, Maluku Utara.
Menurut Tengku Ryo, musik tradisional lahir dari proses panjang interaksi manusia dengan alam. Oleh karena alam yang menjadi sumber inspirasi berbeda-beda, maka musik yang dihasilkannyapun juga berbeda-beda, tidak hanya pada bunyi-bunyiannya, tetapi juga pada alat-alat yang digunakan untuk menghasilkan bunyi-bunyian tesebut.  Lebih lanjut, Tengku Ryo mengatakan bahwa musik tradisional tidak saja digunakan untuk hiburan, tetapi juga digunakan oleh masyarakat yang memegang teguh tradisi untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Mereka berkomunikasi dengan Tuhan menggunakan irama musik dan nyanyian (Wawancara dengan Tengku Ryo, 15 Mei 2009).
Pendapat Tengku Ryo di atas dapat kita gunakan untuk membaca sejarah munculnya kesenian tradisional, seperti halnya Musik Bambu Hitada yang pada kesempatan kali ini menjadi fokus pembahasan. Bambu bagi masyarakat Halmahera, tidak saja dapat digunakan sebagai bahan baku untuk membuat rumah, pagar, tiang, dipan, rakit sungai, dan permainan bambu gila, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai alat musik. Kesenian dengan bambu sebagai peralatan utamanya oleh masyarakat Halmahera disebut Musik Bambu Hitada atau  Hitadi (http://busranto.blogspot.com, http://ternate.wordpress.com).
Bagi masyarakat Halmahera, Musik Bambu Hitada merupakan hasil kreativitas yang tidak saja berfungsi untuk menghibur masyarakat, tetapi juga untuk kelengkapan upacara, seperti upacara perkawinan dan upacara syukuran hasil pertanian. Seiring perkembangan zaman, dan semakin gencarnya musik-musik modern memasuki relung-relung kehidupan masyarakat desa, musik tradisional, seperti halnya Musik Bambu Hitada, semakin tersisihkan. Selain tersisihkan, fungsi musik tradisional ini juga mengalami reduksi, dari musik sakral-profan menjadi sekedar musik profan yang sengaja diproduksi untuk kepentingan pasar. Jika pada awalnya Musik Bambu Hitada berada pada ranah sakral-profan, maka saat ini telah mengalami reduksi fungsi sehingga hanya berada di ranah profan.
Kondisi ini harus disikapi secara arif dan bijaksana oleh segenap stake holder agar musik tradisional, seperti Musik Bambu Hitada, tidak musnah tergilas musik modern yang lebih canggih dan tidak kehilangan fungsi-fungsi tradisionalnya. Menurut penulis, ada tiga hal yang harus dilakukan untuk menyelamatkan Musik Bambu Hitada. Pertama, perlu ditumbuhkan rasa memiliki masyarakat, khususnya anak-anak, terhadap Musik Bambu Hitada. Sejak dini anak-anak harus dikenalkan tidak saja kepada bagaimana membuat dan memainkan Musik Bambu Hitada, tetapi juga nilai-nilai apa saja yang dikandungnya.
Kedua, melakukan pengembangan Musik Bambu Hitada sehingga dapat diterima oleh masyarakat, namun harus tetap berlandaskan nilai-nilai lokal. Munculnya kelompok-kelompok Musik Bambu Hitada merupakan fenomena positif terhadap keberlangsungan musik ini. Namun pengembangan harus dilakukan secara hati-hati agar Musik Bambu Hitada tidak kehilangan ruhnya.
Ketiga, mengembangkan dan mengemas Musik Bambu Hitada menjadi paket-paket wisata. Dengan cara ini, Musik Bambu Hitada akan mampu menjadi penopang kebutuhan ekonomi para pelestarinya. Agar mampu menjadi paket-paket wisata yang menarik, maka pemerintah harus memfasilitasi masyarakat untuk mengasah dan meningkatkan kemampuan memainkan Musik Bambu Hitada, serta kemampuan menejerial pengelolaan kelompok musik.       
2)      Peralatan
Untuk memainkan Musik Bambu Hitada, peralatan-peralatan yang diperlukan antara lain :
·         Ruas Bambu. Sebagaimana namanya, maka peralatan utama Musik Bambu Hitada adalah batangan bambu. Batangan bambu yang dijadikan peralatan Musik Bambu Hitada biasanya hanya terdiri dari 2 ruas dan panjangnya tidak lebih dari 1,75 m. Biasanya batang bambu ini sudah sudah dilobangi sesuai nada tone. Agar menghasilkan nada tone yang berbeda-beda, maka ukuran bambu baik panjang maupun besarnya berbeda-beda. Agar tampilan bambu lebih menarik dan indah, permukaan bambu dicat warna-warni.
·        







Cikir
 
Cikir. Alat musik ini terbuat dari batok buah kelapa yang masih utuh. Di dalam batok kelapa tersebut kemudian diisi dengan beberapa butir kerikil bulat atau biji kacang hijau kering. Alat musik ini biasanya juga dicat warna-warni.






·         Beberapa buah Juk. Alat ini berbentuk gitar kecil yang dibuat sendiri dan dicat warna-warni.
·         Satu atau dua buah biola tradisional. Seperti halnya Bambu Hitada, Cikir, dan Juk, biola tradisional ini juga dicat warna-warni.







Biola gesek

 




·         Karung goni. Alat ini dibutuhkan jika Musik Bambu Hitada dimainkan di atas ubin. Dengan kata lain, karung goni dipakai agar ubin dan batang bambu tidak mudah rusak ketika dibenturkan.

3)      Pemain








Para pemain Musik Bambu Hitada biasanya berjenis kelamin laki-laki
 
Satu grup kelompok Musik Bambu Hitada biasanya beranggotakan 5 hingga 13 orang. Semakin banyak orang, suara musik yang dihasilkan akan semakin semarak. Biasanya, personel musik ini semuanya laki-laki. Jika pun ada perempuan, biasanya berperan sebagai vokalis, bukan pemain alat musik.







4)      Cara Memainkan
Secara garis besar, ada dua tahapan untuk memainkan Musik Bambu Hitada, yaitu tahap persiapan, dan tahap memainkan.
a.      Tahap Persiapan
Pada tahap ini, hal-hal yang harus dilakukan antara lain mengecek peralatan. Peralatan seperti Bambu Hitada,  Cikir, Juk, biola tradisional, dan karung goni harus dicek apakah dalam kondisi siap pakai atau tidak. Kesiapan peralatan sangat menentukan sukses tidaknya permainan Musik Bambu Hitada. Mengecek personel. Cek personel sangat diperlukan untuk mengetahui kesiapan masing-masing anggota kelompok untuk memainkan alat musik sesuai dengan tugasnya masing-masing.  
b.      Tahap memainkan 
Setelah semua peralatan dan para pemain musik telah siap, maka permainan Musik Bambu Hitada bisa segera dimulai. Dalam permainan musik ini, setiap orang hanya mampu memegang dua batang bambu yang masing-masing hanya memiliki nada satu tone.
Semua alat musik dimainkan secara bersamaan sehingga menghasilkan satu irama musik yang enak didengar. Batang bambu dibunyikan dengan cara dibanting tegak lurus di tanah. Jika di atas ubin, maka di atas tersebut diberi alas karung goni. Tujuannya untuk meredam efek dari benturan dua benda keras (bambu dan ubin). Cikir dibunyikan dengan digoyang-goyang, juk dengan cara dipetik, dan biola tradisional dengan cara talinya dipukul-pukul.
5)      Nilai-nilai
Musik Bambu Hitada merupakan bagian dari khazanah kebudayaan Halmahera, Maluku Utara. Musik ini merupakan pengejawantahan dari nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Halmahera. Nilai-nilai tersebut di antaranya adalah: nilai sakral, kreativitas, kebersamaan, dan ketaatan kepada sistem.
Pertama, nilai sakral. Walau kini Musik Bambu Hitada lebih menonjol aspek hiburannya, tetapi pada awal perkembangannya, musik ini menjadi pelengkap upacara-upacara sakral, seperti upacara perkawinan. Sebagai pelengkap upacara-upacara, maka dengan sendirinya Musik Bambu Hitada menjadi benda sakral. Posisi sakral Musik Bambu Hitada harus disikapi secara cerdas. Menurut penulis, label sakral ibarat pisau bermata dua. Ia dapat menjadi benteng perisai musik ini sehingga tidak punah pada satu sisi, dan menjadi penghambat perkembangan musik ini.
Kedua, nilai kreativitas. Keberadaan Musik Bambu Hitada merupakan salah satu bukti kreativitas masyarakat Halmahera. Bagi masyarakat Halmahera, bambu tidak sekedar bahan baku untuk membuat rumah dan benda-benda lainnya, tetapi juga dapat menjadi media untuk berkreativitas dalam berkesenian. Selain itu, Musik Bambu Hitada juga menjadi media kreatif untuk membangun relasi sosial dengan masyarakat pada satu sisi, dan melakukan komunikasi dengan sakral, sebagai mana disebutkan pada nilai sakral di atas, pada sisi yang lain.    
Ketiga, nilai kebersamaan. Di tengah kondisi masyarakat yang semakin individualis,   Musik Bambu Hitada mengajarkan kepada kita untuk senantiasa membangun kebersamaan dengan pihak lain. Tanpa kebersamaan, tidak mungkin Musik Bambu Hitada menghasilkan irama musik yang menarik. Dalam kebersamaan, kita dituntut untuk tidak saja menghormati orang lain, tetapi juga rela dengan peran-peran yang dilakukan masing-masing personel.
Keempat, ketaatan kepada sistem aturan. Setiap orang harus taat dan mematuhi sistem aturan yang berlaku. Dengan cara ini, niscaya akan tercipta tata kehidupan yang tertib. Musik Bambu Hitada mengajarkan kepada kita agar senantiasa patuh dan taat terhadap ketentuan yang telah ditetapkan, baik menyangkut mikanisme memainkan alat, atau sistem organisasi permainan. Apa jadinya jika masing-masing personel Musik Bambu Hitada membuat aturan sendiri? Tentu sebuah irama musik yang sumbang dan tidak akan enak untuk didengar.